LAILATUL QADAR, BUKAN MALAMNYA YANG BERDERAJAD SERIBU BULAN

Sebagian besar umat Islam memiliki kepercayaan, bahwa pada sepuluh akhir bulan Ramadhan, di hari yang ganjil, turun malaikat dan ruh ke alam dunia di malam hari sampai terbit fajar sebagai rakhmat bagi mereka yang berpuasa dan tidak tidur dengan memberikan derajad 1000 bulan = 30.000 hari, kepercayaan itu bersandar pada teks al-Qur’an surat al-Qodr ayat 1 sampai 5. Oleh karena itu umat Islam pada malam akhir Ramadhan, melakukan I’tikaf di masjid (semalam suntuk tidak tidur/melekan untuk beribadah, red). Ada yang sampai melakukan cuti kerja, semata-mata mendapatkan pahala 1000 bulan.

Kuatnya dorongan I’tikaf itu karena ada yang mematematiskan derajad 1000 bulan dengan sistem kelipatan. Orang yang mendapatkan lailatul qadr saat sholat tahajud, sama dengan dilakukan diluar hari itu selama 1000 bulan atau 30.000 hari atau 83 tahun 4 bulan, demikian juga orang yang melakukan kebaikan-kebaikan pada hari itu senantiasa mendapatkan kelipatan 83 tahun 4 bulan. Sehingga setiap malam-malam ganjil masjid-masjid di malam hari layaknya seperti pasar malam. Dalam beberapa hadist juga memberitahukan bahwa Rasul dan sahabat-sahabatnya, pada hari-hari tersebut juga melakukan I’tikaf.

KOREKSI

Surat Al Qodr yang dijadikan landasan pemikiran diatas, menurut pendapat penulis akibat keliru menafsirkannya. Isi surat tersebut lengkapnya sebagai berikut : (diterjemahkan oleh Departemen Agama sebagai berikut)

  1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan.
  2. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
  3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
  4. Pada malam itu turun malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
  5. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Kalau dilihat secara sekilas dari terjemahan teks tersebut, sepertinya tidak ada permasalahan dengan aqidah diatas, tapi bila diperhatikan dengan seksama ada beberapa kejanggalan, diantaranya ialah :

  1. Menafsirkan kata ganti Hu/nya dengan al-Qur’an.
  2. Hilangnya pokok bahasan dalam hal ini kata ganti HU atau NYA pada ayat 2 dan 3. sehingga yang menjadi obyek pembahasan ayat 2 dan 3 ialah lailatul qodr atau malam kemuliaan akibatnya, yang berderajad 1000 bulan bukan yang diturunkan melainkan malam qodrnya.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah SAW pernah menyebut-nyebut seorang Bani Israil yang berjuang di jalan Allah menggunakan senjatanya selama 1000 bulan terus menerus. Kaum muslimun mengagumi perjuangan orang tersebut. Maka Allah menurunkan surat Al Qodr bahwa satu malam lailatul qodr (yang diturunkan Allah pada malam lailatul qodr) lebih baik dari perjuangan Bani Israil selama 1000 bulan. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Al Wahidi yang bersumber dari mujahid.

Saya melihat dibalik kekaguman kaum muslimun terhadap tokoh yang dikisahkan nabi, ada seberkas keresahan, bahwa mereka tidak akan dapat menandingi mereka dalam mendapatkan amal sholeh, karena usia mereka rata-rata 60 tahun sedangkan umat terdahulu umumnya ada yang seribu tahun, lalu Allah memberikan petunjuk yang tertulis pada surat Al Qodr, apabila mereka mau melaksanakan instruksi surat Al Qodr, niscaya yang dilakukan mereka lebih baik dari 1000 bulan. Seolah ketika umat Islam bertanya kepada Nabi “Wahai Nabi bagaimana kita mampu menyamai amalan umat terdahulu yang berumur panjang?” Allah menjawab dalam surat al-Qadr ayat 1, “Sesungguhnya aku telah menurunkannya pada malam kemulyaan” atau kalau diterjemahkan bebas, “ Lho sebenarnya tentang itukan aku telah menurunkannya, pada malam qodr.”

Lalu apakah inti petunjuk tersebut? Yaitu melaksanakan sesuatu yang diturunkan Allah pada malam Lailatul Qodr tersebut. Malam yang mana yang disebut malam lailatul Qodar dalam surat itu? Dan apa yang diturunkan malam tersebut? Malam Lailatul Qodar dijelaskan dalam al-Qur’an pada surat Al Qodr 1-5, dan Surat Ad Dukhaan ayat 1-6 :

1. Haa Miim.

2. Demi Kitab (Al Qur’an) yang menjelaskan,

3. sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.

4. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,

5. (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul,

6. sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,

Dari gambaran dua surat di atas jelas yang dimaksud malam Lailatul Qodar adalah malam diangkatnya Rasul baru membawa Risalah baru pengganti dan penyempurna Rasul dan Risalah terdahulu. Karenanya menurut Dr. M. Quraish Shihab, malam Lailatul Qodar juga disebut malam penetapan. (qodar = ketetapan). Pada malam itu malaikat-malaikat dan malaikat Jibril turun ke Bumi untuk menyelesaikan urusan yang besar yaitu pelantikan seorang rasul akhir jaman dengan 5 ayat Surat al-Alaq (1-5) sebagai risalah pembuka.

Semua Ulama’ sepakat bahwa wahyu pertama yang diturunkan Allah ialah SURAT AL ALAQ ayat 1 – 5. Jadi kata hu pada surat Al Qodr ayat 1 bukan al-Quran secara umum seperti yang diterjemahkan oleh Departemen Agama, melainkan surat Al Alaq.

Pada ayat kedua surat al-Qodar, Allah memberikan rangsangan berpikir, tahukah kamu apakah potensi yang diturunkan pada malam lailatul qodr itu? Lalu Allah memberitahukan bahwa potensi surat Al Alaq yang diturunkan pada malam lailatul qodr itu lebih baik dari 1000 bulan.

Terjemahan departemen agama, tidak memasukkan pokok pembahasan dalam hal ini ialah surat Al Alaq pada ayat kedua dan ketiga, akibatnya yang menjadi inti pembahasan ialah MALAM LAILATUL QODRNYA, padahal malam lailatul qodr pada ayat 1, merupakan penjelasan bukan pokok pembahasan, kekeliruan ini mendorong umat Islam tidak menggali surat Al Alaq melainkan menggali apa malam lailatul qodr itu, lalu ditafsirkan seperti pemahaman diatas, malaikat turun dari langit pada akhir bulan Ramadhan dengan mengabsen orang yang tidak tidur untuk dilipatkan pahalanya.

RELEVANSI SURAT AL ALAQ

Potensi surat Al Alaq sebagai pelipat amal 1000 bulan, dapat dipahami karena isi surat itu mengandung penggerak kemajuan yang tidak ada habis-habisnya. Isinya sebagai berikut:

  1. Bacalah, terhadap sifat-sifat (nama) Penguasamu yang telah menciptakan.
  2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
  3. Bacalah dan (Niscaya kau dapatkan) Penguasamu zat yang Maha Pemurah.
  4. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam.
  5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui.

Nabi Muhammad adalah manusia yang tidak dapat membaca dan menulis, tidak mungkin Allah yang Maha Tahu memerintah apa yang tidak dapat dilakukan, dengan demikian membaca disana harus diartikan mengamati, melakukan penelitian terhadap sifat-sifat penguasamu dalam hal itu adalah Allah lewat semua ciptaannya, lebih simpelnya, iqro’ adalah perintah meneliti terhadap lingkungan alam, manusia dan Allah. Dengan penelitian itu akan diketahui bahwa Allah menciptakan manusia dari segumpal darah, mengetahui kemurahan Allah, tidak bersifat dogma melainkan lewat analisis Rasional (Penelitian).

Ayat 3 surat al Qodar kembali ditegaskan perintah untuk melakukan penelitian terhadap Alam, dengan penelitian itu akan terkuak bahwa alam ini mengandung limpahan rizki yang melimpah ruah dari Allah, bahwa Allah yang maha pemurah akan terkuak apabila kita meneliti Alam. Hasil penelitian kita akan alam terbukti meningkatkan kesejahteraan manusia, kemudahan mendapatkan bahan pangan, mineral, minyak bumi, gas alam, dan sebagainya.

Ayat 4 dan 5, Allah mengajarkan manusia tentang pena, alat tulis, alat menyimpan data. Allah mengajarkan budaya tulis, yang sebelumnya manusia hanya mengandalkan ingatan dan lisan. Budaya tulis adalah batas peradaban sejarah manusia yang mengubahnya dari zaman pra sejarah, budaya tulislah yang mengubah wajah dunia. Penelitian, budaya tulis/menyimpan data dan teknologi alat penyimpannya adalah kemurahan Allah yang berlimpah ruah. Allah mengajarkan manusia tentang alat menyimpan data sehingga dengan alat itu akan diketahui apa-apa yang sebelumnya sulit diketahui manusia karena terbatasnya memori otak. Bila jaman dahulu otak digunakan untuk merekam data sehingga tidak ada kesempatan mengembangkan data, dengan adanya alat penyimpan data manusia dapat mendalami, mengembangkan penelitiannya tentang sesuatu lebih dalam sehingga menemukan yang sebelumnya tidak diketahui. Komputer, Harddisk, Flashdisk, dengan kapasitas penyimpanan yang luar biasa akan menjadikan manusia mengetahui apa yang belum diketahuinya, dengan melanjutkan penelitian orang-orang terdahulu.

Kesimpulannya surat al-Alaq ayat 1-5 mengajarkan manusia tentang :

1. PENELITIAN YANG BERMANFAAT ATAS NAMA TUHAN

2. MENELITI MANUSIA DAN ALAM UNTUK KESEJAHTERAAN MANUSIA

3. MENGGUNAKAN ALAT PENYIMPAN DATA UNTUK PENGEMBANGAN PENELITIAN

Kemampuan, kecepatan gerak orang yang mengetahui sifat alam dengan yang tidak mengetahui dalam mempotensikan sumber daya alam perbandingannya bisa 1 : 30.000 baik secara kuantitas dan kualitas, kita dapat mengambil contoh, orang Islam pedalaman yang tidak mengenal teknologi elektronik berkeinginan menyampaikan ayat kursi kepada penduduk Indonesia yang berjumlah 180.000.000, bila sehari ia menyampaikan pada 1000 orang, niscaya jumlah itu dapat ditempuh selama 180.000 hari = 6.000 bulan = 500 tahun, bagi mereka yang mengenal pengetahuan dan menggunakan teknologi televisi akan dapat dicapai 1 jam atau 1 hari atau paling lama hanya 1 bulan, perbandingan orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui teknologi, 1 : 6.000 bulan.

Dalam berperang misalnya, orang yang tidak menggunakan teknologi membunuh 300 ribu musuhnya dengan pedang 1 hari 10 orang, bisa memakan waktu seribu bulan. Tapi dengan teknologi senjata api, bom, nuklir bisa hanya dalam waktu yang relatif singkat musuh sudah dapat dikalahkan. Demikian juga pada berbagai bidang aktivitas kehidupan, pengobatan, pendidikan, transportasi, komunikasi, orang yang mengenal lingkungannya lebih berkualitas dibandingkan dengan mereka yang tidak mengetahui.

Beberapa hadist banyak disebutkan, bahwa derajat ilmuwan dengan para ahli ibadah seperti cahaya bulan dengan bintang.

Dengan mempelajari surat Al Alaq, umat Islam akan dapat mengalahkan kualitas amaliah yang dilakukan oleh umat terdahulu walaupun secara usia dan semangat lebih tinggi dari umat Islam terdahulu.

Keliru besar orang yang ingin mendapatkan derajad 1000 bulan dengan menunggu pada bulan Ramadhan akhir, langkah yang tepat bila ingin mendapatkan derajad 1000 bulan ialah mengkaji terus realitas alam di sekitar kita dari hasil pengetahuan tersebut kita terapkan untuk pemecahan masalah sosial, dengan demikian derajad 1000 bulan tidak hanya pada bulan puasa saja, melainkan pada bulan-bulan lainnya dan tidak hanya diperoleh oleh umat Islam saja, melainkan orang di luar Islam juga berhak menyandang derajad 1000 bulan bila mengkaji dan mengetrapkan lingkungan alam. Kenyataan ini dapat dibuktikan dengan kebesaran Rusia, Amerika dan negara-negara Eropa dibandingkan dengan umat Islam dalam masalah teknologi.

Dari pemikiran ini, kami menyimpulkan bahwa I’tikaf yang dilakukan oleh Nabi pada bulan Ramadhan, tidak dalam rangka mendapatkan derajad 1000 bulan melainkan sebagai perwujudan rasa syukur atau mengenang sejarah besar tentang turunnya al-Qur’an atau bulan ini dipandang oleh Nabi sebagai bulan yang efektif ditinjau dari suasana sosial dan psikis untuk melakukan iqro’.

*** Tulisan ini adalah buah pikiran seorang Ulama’ Besar, dari Surabaya – Jawa Timur, yang kami edit untuk posting. Purwo P.

Ibadah di Bulan Ramadhan Sebagai Strategi Bertahan Di Tengah Krisis

Marhaban ya ramadhan, selamat datang bulan ramadhan 1429 H. Umat muslim menyambut ramadhan dengan berbagai kegiatan ibadah yang memang khusus diperintahkan pada bulan ramadhan. Pahala yang berlipat-lipatpun telah dijanjikan Allah khusus bagi orang-orang beriman yang menjalankan ibadah dibulan ramadhan tersebut. Ada apa sebenarnya di bulan ramadhan? Mengapa bulan Ramadhan begitu istimewa? Untuk mengetahui jawabannya kita akan melihat bagaimana dahulu Rasulullah awal mula menerima perintah puasa dibulan ramadhan.

Puasa ramadhan diperintahkan pada tahun awal hijrah, ini berarti nabi masih baru tiba di Madinah. Sebagaimana kita ketahui nabi beserta pengikutnya hijrah ke-Madinah dalam keadaan permusuhan yang memuncak dengan keluarga besarnya sendiri yaitu suku Quraisy. Datang ke Madinah dengan bekal seadanya, meninggalkan harta benda dan mata-pencahariannya. Miskin papa tanpa harta dengan jumlah muslimin saat itu tidak lebih dari 300 orang suatu kelompok yang sangat kecil jumlahnya, yang siap dimangsa suku-suku di Madinah dan sekitarnya. Masyarakat Arab saat itu memiliki kebiasaan buruk yaitu saling serang, merampok, menjarah, dan menjadikan tawanan yang kalah menjadi budak. Karenanya ikatan kesukuan menjadi sangat kuat diantara suku-suku arab, mengingat mereka harus bersatu, bertahan ataupun membalas serangan dari suku-suku yang lain. Namun Nabi dan para pengikutnya yang hijrah ke Madinah, berada sangat jauh dari perlindungan suku-suku keluarganya.

Kondisi nabi dan para pengikutnya saat itu berada dalam kondisi kritis. Sedikit saja berbuat kesalahan dampaknya adalah lenyapnya eksistensi Islam dari muka bumi. Karenanya sesampainya di Madinah buru-buru nabi memerintahkan pengikutnya dari Mekah untuk membangun ikatan keluarga yang baru dengan penduduk setempat yang menerimanya. Ikatan yang dibangun tidak hanya lewat ikatan perkawinan tapi juga lewat ikatan saudara angkat. Satu orang muhajirin (orang-orang yang hijrah) mengangkat saudara dengan satu orang Anshor (penduduk setempat penolong nabi dan pengikutnya).

Nabi juga menempuh jalan lain untuk keluar dari krisis tersebut. Ikatan lain yang membuat suatu suku tidak diserang oleh suku yang lain adalah perjanjian damai. Sudah menjadi kebiasaan pula pada masyarakat Arab sebagai konsekuensi logis yang mengiringi kebiasaannya saling serang dalam ajang yang disebut ghoswah, yaitu bersekutu, berkoalisi, mengikat perjanjian damai, dan meminta perlindungan pada suku yang lebih besar. Sesampainya di Madinah buru-buru pula nabi membuat ikatan-ikatan perjanjian damai dan koalisi dengan suku-suku di Madinah dan sekitarnya. Perjanjian itu kita kenal dengan nama Piagam Madinah. Dengan sengaja atau tidak, sering kali orang mengabaikan konteks peristiwa ini mengiringi lahirnya Piagam Madinah tersebut, sehingga mereka menyimpulkan Islam agama yang pluralis. Padahal pengakuan nabi atas pluralisme tersebut hanyalah sebagai strategi mencari selamat ditengah krisis eksistensi umat Islam.

Krisis yang lain yang tidak dapat menunggu untuk harus segera diselesaikan adalah urusan perut. Krisis ekonomi akibat ditinggalkannya harta benda para muhajirin di Mekah karena mereka dalam pelarian yang sembunyi-sebunyi dari kejaran orang-orang Quraisy, juga berubahnya mata pencaharian dari Mekah yang terkenal dengan perdagangan menjadi Madinah yang bermata-pencaharian pertanian. Sementara arus perdagangan dan pasar di Madinah dikuasai oleh orang Yahudi yang punya hubungan dekat dengan Quraisy. Kelaparanpun tidak bisa dihindarkan, nabi menginstruksikan pada umatnya untuk berbagi makanan, makanan untuk satu orang dimakan dua orang, makanan untuk dua orang dimakan empat orang. Nabi pun tidak luput dari bencana kelaparan tersebut, seringkali beliau mengganjal perutnya dengan batu agar perutnya tidak mudah lapar, memakan makanan dengan lutut tertekuk menekan lambung agar cepat kenyang. Beliau hampir setiap hari puasa, walaupun kadang tetap tidak ada makanan untuk berbuka. Dalam keadaan umat Islam seperti inilah perintah puasa ramadan itu turun.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, Qs. 2:183

Menjadi menggelitik dibenak kita mengapa umat Islam yang dalam keadaan seperti itu masih diperintahkan berpuasa, padahal tanpa diperintahpun mereka sehari-hari puasa? Puasa adalah menahan hawa nafsu makan, minum, seksual, dan nafsu-nafsu yang lainnya di siang hari. Mengapa dipilih waktu siang hari dimana matahari panas menyengat memacu lapar dan dahaga? Mangapa bukan malam hari yang sejuk, dan sebagian besar waktunya kita gunakan untuk tidur? Tentu ada hikmah yang besar yang Allah sembunyikan dibalik perintah tersebut.

Mengikuti logika bahwa perintah adalah untuk dilaksanakan, orang yang diperintah adalah yang belum melaksanakan, pasti perintah puasa yang kita artikan sebagai tidak makan dan minum tentu lebih ditargetkan kepada yang belum melaksanakan puasa. Kalau sehari-hari sebagian besar umat Islam yang memang tidak memiliki makanan itu telah puasa, pasti yang menjadi sasaran lebih prioritas perintah puasa adalah mereka-mereka yang mempunyai makanan dan minuman dan tidak berpuasa. Puasa menjadi pendidikan bagi mereka, sebuah pengalaman empiris kelaparan di siang hari menjadi bekasan yang mendalam menyentuh perasaan empati sosial mereka.

Kalau targetnya adalah mengasah empati sosial ditengah masyarakat yang kelaparan tersebut, tentu sangat logis dan klop bila perintah puasa diiringi dengan perintah bersedekah, berzakat, memberi makan fakir miskin, memberi makanan berbuka bagi yang puasa, membayar fidyah bagi yang tidak sanggup berpuasa, dan sebagainya. Inilah yang disebut dengan ibadah di bulan ramadhan sebagai strategi dari Allah dan Rasulnya untuk bertahan ditengah krisis.

Krisis yang lain yang harus dihadapi sebagaimana diuraikan diatas adalah jumlah umat Islam yang kecil ditengah ancaman musuh yang besar. Untuk mengadapi musuh yang berjumlah besar tentu kita harus mengimbanginya dengan jumlah yang besar pula, kalau jumlah kita kecil dan tidak mungkin menambah kuantitasnya lagi maka yang harus ditambah adalah kualitasnya. Kualitas yang bagaimana yang harus ditambah bagi umat Islam dan benarkah ibadah ramadhan dapat meningkatkan kualitas, sehingga golongan yang kecil dapat mengalahkan golongan yang besar?

Dahulu orang mengira, kualitas yang membawa manusia pada kesuksesan adalah kualitas kekuatan fisik, siapa yang memiliki fisik yang kuat akan mampu mengalahkan musuhnya, dan dia akan menjadi orang yang sukses dan berjaya. Kemudian asumsi itu dibantah ketika orang menemukan kecerdasan intelegensi atau yang sering disebut dengan IQ. Seorang yang cerdas, yang ber-IQ tinggi akan mampu memperdaya orang-orang yang hanya mengandalkan kekuatan fisik. Belakangan ditemukan bahwa tidak sedikit orang yang ber-IQ tinggi gagal dalam hidupnya karena ketidak mampuannya dalam hal mengendalikan emosi. Beralihlah orang mempelajari bagaimana meningkatkan kecerdasan emosi atau yang lebih dikenal dengan EQ agar dapat sukses dan berjaya dalam hidup. Tidak lama berselang dari itu orang menemukan SQ, Kecerdasan Spiritual. Barang siapa mampu menggali sumber spiritual dalam dirinya orang tersebut akan memiliki daya kekuatan yang luar biasa dalam hidupnya, karena sumber spiritual tersebut mengalirkan kekuatan yang tidak ada habis-habisnya, menjadikan orang yang jatuh dapat terus bangkit lagi, tidak ada rasa putus asa, tidak ada kata menyerah. Kekuatan spiritual inilah yang dituju dari perintah berpuasa, sebagaimana firman Allah dalam Qs. 2:183, bahwa puasa adalah untuk tercipta takwa dalam diri kita.

Takwa adalah suatu mental ketundukan, takut dan harap hanya pada Allah. Takwa adalah suatu nilai dasar, diatasnyalah dibangun nilai-nilai yang lain, tanpa nilai dasar nilai-nilai yang lain tidak ada artinya. Baik-buruk, benar-salah, cinta-benci, indah-jelek, semuanya berlandaskan takwa. Tidak ada kebaikan, tidak ada kebenaran, dan tidak ada cinta kecuali karena rasa takut dan berharap pada Allah. Tidak ada keburukan, tidak ada kesalahan, tidak ada kebencian selain karena tidak ada rasa takut pada Allah dan harapan pada selain Allah. Bagaimana mental takut dan harap itu dibentuk dalam ibadah dibulan ramadhan?

Puasa dalam pengertian menahan makan dan minum disiang hari yang panas, apalagi di negeri Arab yang penuh padang pasir waktu itu, dan terik matahari yang belum dinaungi gedung-gedung ber-AC, menahan lapar dan dahaga bisa menjadi wujud ketundukan yang luar biasa. Di malam hari disambung dengan shalat tarawih, shalat malam yang biasanya orang enggan melaksanakan, menjadi seolah-olah diwajibkan. Dalam nuansa rasa spiritual yang religius seperti itu masih ditambahkan lagi lebih malamnya lagi dengan kegiatan mengingat kembali firman-firman Tuhan dalam indahnya syai’r al-Qur’an. Ini seperti menanamkan nilai-nilai pada jiwa yang memang telah siap menerima nilai-nilai tersebut, maka nilai-nilai itu akan tumbuh subur, dan mengakar kuat. Satu bulan penuh mental takwa itu dipupuk, dimalam-malam terakhir intensitasnya justru ditingkatkan dengan semalam suntuk menghayati kembali makna hidup. Ditutup dengan gegap-gempita mengumandangkan takbir yang diulang-ulang, bahwa hanya Allah saja yang besar, yang selainya sangat kecil dihadapannya, maka serangkaian ibadah dibulan ramadhan itu benar-benar membentuk kekuatan yang besar. Kualitas kelompok yang kecil yang mampu mengalahkan kelompok yang besar.

Allah menyebut puasa yang mampu membentuk kualitas takwa yang mampu memberi kekuatan luar biasa, sehingga golongan yang kecil bisa mengalahkan golongan yang besar itu sebagai ibadah yang telah diwajibkan kepada umat-umat terdahulu. Cerminan kekuatan puasa dapat kita pelajari dari umat-umat terdahulu sebagaimana firman Allah dalam Qs. 2:249, ketika tentara bani Isra’il yang berjumlah kecil hendak melawan tentara musuh yang besar, Allah menguatkan kualitas takwanya dengan perintah puasa.

“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: Sesungguhnya ALLAH akan menguji kamu dengan suatu sungai, maka siapa di antara kamu meminum airnya; ia bukanlah pengikutku dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menciduk seciduk tangan, maka dia adalah pengikutku. Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang saja diantara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya. Maka orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui ALLAH, berkata: Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin ALLAH dan ALLAH beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah, 2/249)

Sengaja Allah firmankan kisah ini agar menjadi pelajaran, motifasi, dan petunjuk bahwa puasa dapat membangun kekuatan yang menjadikan golongan kecil mengalahkan golongan yang besar.

Dari uraian diatas bolehlah kita simpulkan serangkaian ibadah di bulan ramadhan adalah strategi Allah dan Rasulnya untuk bertahan ditengah krisis yang dihadapi umat Islam saat itu. Bagaimana dengan ibdah ramadhan dimasa-masa yang tidak lagi krisis? Bagaimana pula dengan ibadah di bulan ramadhan pada masa sekarang?

Hikmah dari ibadah di bulan ramadhan masa nabi pun masih bisa berlaku sampai sekarang. Puasa sebagai pembentuk empati sosial, Sedekah dijalan Allah untuk mempertahankan eksistensi umat Islam, Puasa membentuk rasa takut dan harap, ditambah tarawih, tadarus dan I’tikaf membentuk mental ideologis pembelaan berani mati terhadap Islam, semua itu menjadikan umat Islam yang kini kecil mampu mengalahkan golongan yang besar.

Surabaya 1 Ramadhan 1429 H/1 September 2008 By: Purwo P.

KISAH NABI IBRAHIM

Ibrahim adalah teladan untuk umat manusia sepanjang masa. Sosok makhluk yang tidak mudah terombang-ambing arus jaman. Wujud kekuatan akal/rasio manusia keluar dari tradisi yang tidak logis dan obyektif. Kisah ini semoga menjadi inspirasi bagaimana bangsa Indonesia bisa keluar dari kemelut yang tak kunjung usai.

KISAH NABI IBRAHIM.

Cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada.

Kelahiran Cucu SBY Bagian Dari Politik Pencitraan?

Politik pencitraan adalah penggunaan daya kharisma, popularitas, sebagai sumber kekuasaan politik. Daya kharismatik bisa berwujud ketampanan, kegagahan, suara yang lembut-merdu, gaya bicara yang teduh-mengayomi. Sumber kekuasaan tersebut tidaklah otomatis menjadi kekuasaan politik. Banyak orang memiliki sumber kekuasaan yang besar tetapi tidak menjadi penguasa politik. Untuk mengaktualkan sumber kekuasaan menjadi kekuasaan politik yang sesungguhnya diperlukan strategi pemasaran yang baik. Istilahnya kita sedang berdagang, bertransaksi dengan rakyat agar modal sumber kekuasaan yang kita miliki laku diterima oleh rakyat. Penawaran bisa dengan cara sangat halus penuh persuasive, sampai dengan cara yang kasar terang-terangan memaksa. Ketampanan, kegagahan, suara merdu dan gaya bicara yang memukau itu harus ditawarkan sedemikian rupa kepada rakyat dalam momen-momen yang menyedot perhatian masa yang besar. Tidak perduli itu peristiwa sedih atau bahagia, peristiwa menyenangkan atau tidak mengenakkan dimana peristiwa itu menyedot perhatian masa-rakyat yang besar, disaat itulah kesempatan yang tepat untuk memasarkan daya kharisma. Momen-momen seperti siaran televisi pada jam tayang prime time, adanya perayaan hari besar, atau bencana tsunami, banjir, sampai luapan Lumpur Lapindo, bisa jadi momen yang tepat untuk tebar pesona. Dengan daya kharismatik tersebut rakyat menjadi memuji-mujinya, terpukau, kagum, lalu berwujud pengakuan, dukungan, kemudian pilihan politik.

Presiden SBY dikenal dengan kemampuannya membangun citra positif dimata public untuk meraih dan mengukuhkan kedudukan politiknya. Beliau punya wajah yang tampan yang dieksploitasi lewat kamera untuk diiklankan ditelevisi, Beliau punya postur tubuh yang tegap-gagah, karena memang beliau seorang Jendral Militer dengan fisik yang terlatih dengan baik. Beliau memiliki suara yang lembut-merdu yang sering beliau pamerkan dengan bernyanyi saat kampanye. Beliau seorang yang pandai berorasi, berpidato tanpa teks, dengan gaya bicara dan bahasa tubuh yang teduh-mengayomi. Walhasil dalam waktu singkat popularitasnya dengan cepat melejit, mengalahkan tokoh-tokoh yang lebih dulu memulai kariernya dibidang politik.

Presiden SBY juga sigap dan cekatan dalam memanfaatkan momen-momen penting yang terjadi di tanah air. Gempa bumi dan Tsunami di Aceh dan Jogja, Luapan Lumpur Lapindo Sidoarjo, Kebakaran Pasar di Surabaya, dan sebagainya. Bahkan dalam beberapa momen sempat terkesan dahulu-mendahului, srobot-menyrobot dengan Yusuf Kalla yang juga menempuh jalan yang sama.

Bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-63, tanggal 17 Agustus 2008, cucu pertama SBY dari putra sulungnya Agus Harimukti Yudhoyono dan Annisa Pohan lahir dengan cara Caesar, mundur setengah bulan dari waktu yang seharusnya. Banyak suara-suara sumbang menyebut-nyebut bayi tersebut dipaksakan lahir sebelum waktunya. 17 Agustus adalah hari besar, momen besar yang menyita perhatian seluruh rakyat Indonesia, momen yang baik untuk mengukuhkan kharisma dan popularitas SBY. Buru-buru bantahan disampaikan keluarga SBY lewat jumpa pers dan dokter yang membantu persalinan tersebut.

Politik pencitraan adalah strategi yang umum digunakan para politisi. Politik pencitraan sangat ampuh digunakan pada masyarakat yang tingkat rasionalitas dan kesadaran politiknya masih rendah. Rasionalitas dan kesadaran politik yang rendah menjadikan rakyat sulit membedakaan antara kekaguman terhadap kharisma ketampanan, kegagahan, dengan kekaguman akan sosok seorang pemimpin yang baik. Rakyat yang kurang rasional akan mengasosiasi ketampanan dan kegagahan dengan kepribadian yang baik dan kemampuan memimpin yang baik. Apalagi di negara yang menerapkan demokrasi pilihan rakyat langsung, popularitas adalah harga mati untuk kemenangan politik. Secara umum struktur tingkat rasionalitas rakyat sebuah negara adalah berbentuk pyramid dengan kelompok masyarakat rasional dan sadar politik dibagian ujung atas dengan jumlah yang sedikit. Menggunakan politik pencitraan untuk meraih kemenangan politik adalah hal yang wajar, bahkan suatu keharusan universal. Bahkan Tuhan-pun memilih para Nabi dan Rasulnya yang hendak diutus membangun masyarakat, mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat thayyibah dengan kekuasaan politik, adalah orang-orang yang tampan, gagah, berkedudukan terhormat di masyarakatnya.

Namun seyokyanya politik pencitraan ditempatkan sebagai alat saja yang menjembatani kualitas seorang pemimpin dengan keawaman rakyat. Seorang pemimpin wajib memiliki kualitas kepemimpinan, tapi kualitas kepemimpinan tanpa popularitas juga akan kalah dengan yang popular. Seorang pemimpin yang hanya memiliki popularitas tanpa kualitas kepemimpinan adalah penipu rakyat. Sebab rakyat butuh seorang pemimpin bukan seorang selebritis. Seorang pemimpin berkualitas yang juga menggunakan popularitas sebagai alat bukan hendak bermaksud menipu rakyat, sebab rakyat juga akan mendapatkan pemimpin sesuai dengan yang diharapkan. Ibarat memberi obat pada anak kecil barangkali perlu diberi rasa manis dan kemasan yang menyenangkan, biar si anak mau memakannya dan tujuan kesembuhan tercapai.

Bagaimana dengan fenomena kelahiran cucu presiden SBY yang dikaitkan dengan politik pencitraan? Kalau dikatakan memaksakan kelahiran, melihat keadaan bayi yang sehat dengan berat 2,8 kg dan panjang 48 cm adalah bayi yang normal. Sehingga sebenarnya istilah dipaksakan lahir adalah kurang tepat. Adapun waktu kelahiran ditepatkan dengan tanggal hari kemerdekaan adalah hal yang wajar. Kalau kita mendapatkan kesempatan yang sama barangkali kita juga akan memilih tanggal yang sama.

Bagaimana kalau si-kakek memanfaatkan kelahiran cucunya sebagai momen untuk politik pencitraannya? Ya, itu sah-sah saja, jangankan momen bahagia kelahiran cucunya sendiri, momen penderitaan orang lain yang terkena gempa atau Lumpur saja sah digunakan untuk politik pencitraan. Asalkan syaratnya, tetap harus dipenuhi, yaitu seorang pemimpin yang berkualitaslah yang boleh melakukannya. Tanpa kualitas kepemimpinan politik pencitraan hanyalah penipuan terhadap rakyat, bahkan tertawa diatas penderitaan orang lain.

Kalau pertanyaannya apakah Presiden SBY seorang pemimpin yang berkualitas? Jawabannya silahkan menilai sendiri-sendiri. Mungkin kita perlu bukti sampai akhir masa jabatannya tahun 2009 mendatang akan kita lihat dan kita nilai apakah SBY seorang pemimpin yang berkualitas ataukah seorang penipu rakyat. 20 Agustus 2008 By: Purwo P.

Refleksi HUT Kemerdekaan RI ke-63

Tadi sore sudah diingatkan teman kalau pulang jangan sampai di atas maghrib akan susah, banyak jalan yang ditutup hari inikan tanggal 16 Agustus. Seperti tahun-tahun sebelumnya masyarakat Indonesia menyelenggarakan malam tirakatan untuk mengenang perjuangan dan penderitaan para pahlawan dengan tidak tidur semalaman. Tirakat itu berasal dari bahasa arab thariqot yang artinya jalan. Karenanya dalam tradisi masyarakat Jawa disebut lelaku, nglakoni (perilaku, melalukan) yaitu menjalankansuatu tindakan yang mencerminkan kesungguhan berjuang, berusaha, untuk mencapai suatu keinginan, atau cita-cita. Kesungguhan itu biasanya diwujudkan dalam tindakan tidak makan atau tidak tidur.

Lupa karena keasyikan ngenet akhirnya pulang jam 7 kurang seperempat. Bergegas starter motor untuk pulang tapi sudah terlambat belok kanan ditutup, belok kiri ditutup, ah coba lewat gang kecil ini tapi ada tulisan harap turun, ok! dorong dikit gak papa asal cepat pulang. Sampai jalan besar di ujung gang motor boleh dinaiki, aduh sial ternyata belok kanan ditutup belok kiri juga ditutup, ini orang satu kampong aja kok bikin dua tempat berbeda untuk tirakatan, jadikan satu kenapa sih? Yah mungkin beda RT kale! Bapak-bapak yang tadi ngikut dibelakangku ngerutu, “Mbuntu dalan sak enake dewe, nek onok perlune yak opo iki?” Nek onok wong loro butuh nang rumah sakit dalan ditutup, isok matek temen iki! (nutup jalan semaunya, kalau ada perlu gimana nih? Kalau ada yang sakit butuh ke rumah sakit jalan ditutup bias mati sungguhan). Kadang jadi terpikir, apa sih manfaatnya semua ini? Tirakat? Apa benar mereka tirakat? Bukannya tidak makan dan tidak tidur sebagai wujud prihatin karena keinginannya belum tercapai, orang-orang itu malah pesta pora dengan makanan berlimpah, joget-joget, karaoke, ada juga yang nonton film layer tancap, tapi bukan film perjuangan, biasanya sih film percintaan atau film laga ala film India.

Keesokan harinya di sekolah-sekolah, diinstansi pemerintah digelar upacara bendera, tak luput juga di isnana negara yang disiarkan langsung oleh stasiun-stasiun televise. ….merdeka… sekali merdeka tetap merdeka….. diulang-ulang terus lagu Hari Merdeka yang merupakan jinggel iklan acara televise, jadi teringat waktu kecil dulu ketika memperingati HUT kemerdekaan RI, rasanya gembira sekali mengikuti meriahnya serangkaian kegiatan dikampung. Anak kecil memang selalu gembira, tidak perduli orang tuanya lagi susah. 63 tahun Indonesia merdeka rakyatnya tetap menderita, hidupnya tetap susah. Dalam hati kembali mencari apa artinya sebuah kemerdekaan. Mungkin karena dulu kita dijajah oleh bangsa asing dan sekarang tidak. Tapi kalau sekarang kita masih dijajah oleh penguasa rakus bangsa sendiri apakah kita juga harus tetap menyebutnya kemerdekaan? Oh! Mungkin karena dulu kita menderita, disuruh kerja paksa, diperas tenaga kita tanpa mendapat imbalan yang layak? Lalu bila sekarang kaum buruh kita dipaksa kerja lembur dengan gaji system kontrak yang telah disetujui emerintahan kita apakah kita juga harus menyebutnya kemerdekaan? Oh! Mungkin dulu penjajah memaksakan kehendaknya menculik, membunuh, kaum vocal, kaum pemberontak? Lalu sekarang ketika seorang Munir pejuang HAM dibunuh oleh pemerintah yang ingin membungkam kevokalannya apakah kita masih berkata kita sudah merdeka?

Ya sudahlah mungkin memang perjuangan belum berakhir, mungkin kita masih harus lebih lama lagi tirakat, menahan lapar, menahan kantuk, sampai cita-cita kita tercapai. 17 Agustus 2008 by : Purwo P

Seharusnya artis tidak terjun ke dunia politik

Akhir-akhir ini marak artis selebriti tanah air kita terjun ke dunia politik. Banyak pendapat baik yang pro maupun yang kontra menyikapi kehadiran mereka di pentas politik tanah air kita. Menjadi terpikir oleh kita apakah para artis itu mampu menjadi seorang pemimpin yang akan menjalankan pemerintahan suatu negara atau daerah.
Secara alamiah seorang yang sedang menggeluti karier tertentu pasti akan mencurahkan waktu, pikiran, biaya dan tenaganya demi suksesnya dikariernya tersebut. Begitupun seorang artis apabila ingin sukses menjadi selebriti terkenal dia tidak segan-segan merogoh koceknya untuk menjaga penampilannya. Dia akan membeli pakaian, perhiasan yang bagus-bagus mengikuti tren masa kini, pergi ke salon untuk perawatan kulit, wajah, rambut, bahkan kuku-kukunya. Untuk menambah kemampuannya dia akan mengikuti kursus-kursus seperti kursus kepribadian, kursus acting, kursus menyanyi, dan lain-lain. Biaya itu akan lebih besar lagi bagi seorang artis yang masih awal merintis kariernya. Iklan promosi album, biaya produksi dan sebagainya akan ditanggungnya sendiri sebelum ada sponsor yang mau mendanai.
Waktu luang untuk mengerjakan kegiatan-kegiatan diluar kegiatan keartisannya juga tidak akan banyak. Waktunya dihabiskan di depan kamera, atau berlatih menghafal naskah, melatih penghayatan, dan sebagainya. Untuk promosi albumnya atau film yang dibintanginya akan diadakan jumpa fans atau tour keliling kota-kota seluruh Indonesia. Tidak jarang artis-artis yang masih berstatus pelajar atau mahasiswa  tidak naik kelas atau mendapatkan nilai akademis yang buruk pada bidang studi yang diambilmnya. Kalaupun ada waktu luang biasanya mereka gunakan untuk bersenang-senang di tempat-tempat gaul, tempat nongkrong para seleb dan esmud, lumayan selain bersenang-senang sekalian menjalin relasi untuk lebih mudah dapat job.
Meninjau kehidupan alamiah seorang artis semacam itu pastinya dia tidak memiliki kecakapan dalam memimpin, tidak banyak memiliki wawasan dalam bidang politik dan pemerintahan. Semakin ia terkenal pasti semakin dalam ia menggeluti kariernya maka semakin jauh pula kemampuan-kemampuan yang dimilikinya dari dunia politik.
Kalaupun dipaksakan tentu akan ada dampak yang harus ditanggung, tidak hanya pada dirinya sendiri melainkan bagi seluruh warga negara yang dipimpinnya. Dia sendiri akan meninggalkan dunia keartisannya yang boleh jadi dia sudah mahir dalam bidang itu berganti dengan dunia baru yang pasti ada penyesuaian yang tidak mudah. Belajar lagi mulai awal tentang ilmu-ilmu dibidang politik dan pemerintahan yang boleh jadi asing dan tidak disukainya.Buku yang dibaca, Koran yang dibaca, siaran televisi yang dilihat.  Membangun lagi kebiasaan-kebiasaan baru yang sangat jauh berbeda dengan dunia keartisan. Kebiasaan dugem, nongkrong, hura-hura, keluar malam diganti dengan rapat berjam-jam, berdebat tentang program pembangunan, meninjau dilapangan ketempat-tempat yang mungkin tidak disukainya untuk dikunjungi. Kalau dia gagal dalam penyesuaian ini yang boleh jadi menuntut cepat, dia akan menjadi seorang yang bodoh, culun diantara politisi sungguhan yang siap mempolitisir dirinya. Padahal untuk sampai di kursi politik itu dia harus berkorban dana ratusan bahkan milyaran juta rupiah, yang ditabungnya bertahun-tahun dari hasil menjadi artis. Sekarang penghasilan menjadi artis tidak ada lagi, padahal modal belum kembali, bagaimana lagi jalan mengembalikan modal kalau tidak lewat jalan korupsi. Apakah mereka tetap nyambi menjadi artis selain sebagai pejabat pemerintahan? Akibatnya akan semakin lama ia menyesuaikan diri didunia politik dan pemerintahan.
Bagi rakyat yang mengharapkan pemecahan atas masalah-masalah yang dihadapinya, justru adalah pihak yang paling dirugikan. Rakyat yang membayar pajak dan dana pajak itu trilyunan rupiah dikeluarkan untuk membiayai pemilu. Hasil dari pemilu dengan biaya trilyunan rupiah itu adalah artis-artis yang culun dan bodoh dalam bidang politik dan pemerintahan yang menjadi pemimpin mereka. Jangankan mengharapkan pemecahan masalah kerakyatan dari hasil kinerja mereka, uang rakyatpun bias jadi dikorupsi pula untuk balik modal dana politik mereka. 15 Agustus 2008 by: Purwo P.